skip to main | skip to sidebar

Aribs javablog

Berfikirlah..Berdzikirlah..

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Rabu, 08 Juni 2011

Hidup itu dihati

Diposkan oleh ARIF SUPRIANTO di 05:26 Label: puisi
Manusia hidup dihatinya
Manusia bertempat tinggal dihatinya
Hati adalah sebuah perjalanan panjang
Manusia menyusurinya, menuju kepuasannya, kesejahteraannya , kebahagiaannya dan Tuhannya

Hati adalah pusat kehendak yang membuat manusia tertawa dan menangis, sedih dan gembira, suka ria atau berputus asa

Manusia mengembara dihatinya
Pikiran membantunya
Maka pikiran harus bekerja sekeras-kerasnya, pikiran bisa perlu ber-revolusi, pikiran tak boleh tidur, pikiran harus dipacu lebih cepat dari waktu cahaya

Hati tidak selalu mengerti persis apa yang dikehendakinya
Ia hanya bisa berkiblat ke Tuhannya untuk memperoleh kejernihan dan ketepatan kemauannya

Badan akan lebur ke tanah
Pikiran akan lebur diruang dan waktu
Hati akan lebur di Tuhan

Mengatur hati
Mangatur pikiran
Mengatur badan
Agar tidak rancu elemen diri ini dalam menjalani hidup


aribs,from guru EAN
0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

10 tips menjadi pengusaha!

Diposkan oleh ARIF SUPRIANTO di 05:14 Label: serba serbi
1. Awali Dengan Impian dan Imajinasi

Sebelum manusia bisa mendarat di bulan, tak pernah ada yang berfikir bahwa hal itu adalah sebuah kenyataan. Ide mendarat di bulan pada awalnya adalah sebuah mimpi indah yang tak akan pernah terwujud. Namun impian dan imajinasi itu akhirnya berubah menjadi kenyataan ketika seseorang telah membuktikannya dengan pendaratan manusia pertama kali ke bulan. Yang perlu diingat adalah segala sesuatu keberhasilan itu bermula dari impian dan keyakinan dengan didorong oleh kerja keras untuk mewujudkannya. Jika anda mempunyai impian untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses dan punya niat untuk mewujudkannya, maka segeralah bangun dari mimpi anda. Bekerja keraslah untuk segera merubah mimpi anda itu menjadi kenyataan. Hanya seorang pemimpi yang mampu menciptakan dan membuat sebuah terobosan dalam produk, jasa ataupun ide yang bisa sukses. Mereka tidak mengenal kata tidak bisa atau tidak mampu.

2. Semangat dan Kegigihan

Antusiasme, semangat dan kegigihan adalah sebuah modal utama di dalam memulai sebuah perjuangan baru untuk mencapai keberhasilan. Bila anda loyo, tidak bersemangat dan dan bermalasan, yakinlah tidak lama lagi anda akan segera mengalami kegagalan total. Carilah motivasi usaha anda itu dengan mempelajari perjuangan pengusaha-pengusaha yang sukses pendahulu anda.

3. Mempunyai Pengetahuan Dasar-dasar Bisnis

Tanpa adanya pengetahuan dasar-dasar bisnis hanya akan membuat usaha anda seperti sebuah kelinci percobaan. Kemungkinan besar hanya akan banyak mengalami kegagalan. Tidak akan ada sukses tanpa sebuah pengetahuan. Yang terbaik adalah belajar sambil bekerja. Bekerja dengan orang lain dulu sebelum anda menjadi pebisnis sangat membantu anda menyerap ilmu dan pengalaman dan siap sukses.

4. Berani Mengambil Resiko

Setiap sesuatu yang kita usahakan tentu akan ada resikonya. Semakin besar hasil yang ingin dicapai, tentu kemungkinan resiko yang akan dialami apabila mengalami kegagalan juga besar. Orang yang berani mengambil resiko adalah calon orang yang sukses. Jangan takut akan kegagalan, tapi jadikanlah kegagalan itu sebagai batu loncatan menuju kesuksesan.

5. Kerja Keras

Hanya dengan bekerja keraslah sebuah usaha akan mengalami kemajuan dan kesuksesan. Bohong apabila ada yang mengatakan dia meraih keberhasilan yang gemilang hanya dengan duduk beberapa saat di tempat kerja seperti yang sering dikatakan pengiklan di internet. Sebenarnya awal mula mereka merintis usahanya itu adalah dengan kerja keras tanpa mengenal putus asa dan banyak berkorban waktu dan tenaga.

6. Mau Belajar Dari Pengalaman Orang Lain

Pepatah mengatakan: “Pengalaman adalah guru yang terbaik.” Seorang calon pengusaha yang sukses mau mengambil pengalaman dari orang lain dan dari dirinya sendiri. Apapun pengalaman seseorang itu baik kesuksesan atau kegagalan harus dijadikan suatu pelajaran yang berharga sebagai panduan dia dalam memulai usaha atau mengembangkan usahanya.

7. Bersedia Menerima kritikan dan Nasehat Dari Orang Lain

Sebagian orang menganggap bahwa kritikan yang ditujukan kepadanya itu adalah sebagai sebuah penghambat bagi kelangsungan usahanya. Akan tetapi bagi orang yang berfikir normal akan menjadikan kritikan atau bahkan nasehat dari orang lain itu sebagai gurunya yang membimbing dia ke arah sukses. Menerima kritikan berarti menyadari bahwa kita mempunyai kekurangan. Dengan mengetahui kekurangan yang ada pada kita maka kita bisa memperbaiki kekurangan itu. Berterimakasihlah kepada orang yang mau menegur dan mengkritik kita.

8. Menjalin Kerjasama Dengan Orang Lain

Betapapun pandainya seseorang itu, apabila dia bekerja sendiri maka perjuangannya itu hanya akan sia-sia belaka. Tidak ada seorang pebisnis pun yang mampu bekerja sendiri. Kerjasama dengan rekan, teman, mitra kerja dan klien sangat penting bagi perkembangan suatu bisnis. Merekalah yang akan memberi masukan, saran dan kritik dan membantu di saat-saat sulit. Seorang pebisnis harus mampu menjalin kerjasama dan bergaul untuk menjalin relasi bisnis dengan seluas-luasnya.

9. Berani Menghadapi Kegagalan

Jangan dikira para pebisnis yang telah mapan dan maju tidak pernah mengalami kegagalan. Bahkan mereka pun suatu waktu pernah mengalaminya. Hanya saja mereka tidak pernah putus asa dan terus berusaha sampai sukses. Orang yang takut gagal adalah orang yang pengecut yang tidak berani melakukan apapun dan kerjanya hanya menghayal saja.

10. Tidak Suka Menunda

Seperti kata pepapatah: “Time is money!” Oleh karena janganlah suka menunda-nunda suatu pekerjaan. Lakukanlah saat ini, sekarang juga selagi ada kesempatan. Menunda suatu pekerjaan berarti adalah suatu kerugian yang akan membuat anda menyesal.

dr berbagai sumber.
0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Jumat, 25 Februari 2011

Biografi MH Ainun nadjib

Diposkan oleh ARIF SUPRIANTO di 08:22 Label: serba serbi
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik Kyai Kanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi.


Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.
Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.
Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, itu pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu.
Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah," katanya.
Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik Kiai Kanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. "Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal," ujarnya.
Emha merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama dengan Teater Dinasti -- yang berpangkalan di rumah kontrakannya, di Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk satu dua kali pertunjukan. Selain manggung, ia juga menjadi kolumnis.
Dia anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, Almarhum MA Lathif, adalah seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian pindah ke SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Lalu sempat melanjut ke Fakultas Ekonomi UGM, tapi tidak tamat.
Lima tahun (1970-1975) hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika belajar sastra dari guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha berikutnya.
Karirnya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media.
Ia juga mengikuti berbagai festival dan lokakarya puisi dan teater. Di antaranya mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).
Karya Seni Teater
Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya bersama Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama. Di antaranya: Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto); Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).
Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun). Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar); dan Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).
Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, Duta Dari Masa Depan.
Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia telah menerbitkan 16 buku puisi: “M” Frustasi (1976); Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99 Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran (1989); Lautan Jilbab (1989); Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Amaul Husna (1994)
Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot Bertutur Lagi (1994); Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995); Bola- Bola Kultural (1996); Budaya Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi (1995); Tuhanpun Berpuasa (1996); Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997); Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997);
Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998); Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah (1998); Ikrar Husnul Khatimah (1999); Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan (2001); Hikmah Puasa 1 & 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); “Kitab Ketentraman” (2001); “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001); “Tahajjud Cinta” (2003); “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003); Folklore Madura (2005); Puasa ya Puasa (2005); Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara); Kafir Liberal (2006); dan, Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006).
Pluralisme
Cak Nun bersama Grup Musik Kiai Kanjeng dengan balutan busana serba putih, ber-shalawat (bernyanyi) dengan gaya gospel yang kuat dengan iringan musik gamelan kontemporer di hadapan jemaah yang berkumpul di sekitar panggung Masjid Cut Meutia. Setelah shalat tarawih terdiam, lalu sayup-sayup terdengar intro lagu Malam Kudus. Kemudian terdengar syair, "Sholatullah salamullah/ ’Ala thoha Rasulillah/ Sholatullah salamullah/ Sholatullah salamullah/ ’Ala yaasin Habibillah/ ’Ala yaasin Habibillah..."
Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan. "Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat," ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak jemaah masjid.
Tampaknya Cak Nun berupaya merombak cara pikir masyarakat mengenai pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih Cinta Negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta, Sabtu (14/10/2006) malam, itu ia melakukan hal-hal yang kontroversial. Dalam berbagai komunitas yang dibentuknya, oase pemikiran muncul, menyegarkan hati dan pikiran.
Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. "Ada apa dengan pluralisme?" katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme.
"Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar," ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua," tutur budayawan intelektual itu.

amizake-sasori
0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Senin, 10 Januari 2011

Syukurku.. Terimakasihku...

Diposkan oleh ARIF SUPRIANTO di 00:33
Fajar menjelang pagi
Dua jadi kepala
Tiga ekor ikut mengenang hilang
Bukan hilang tapi terlewat jadi kenangan

Pintu terbuka betapa indahnya
Sujud syukur memutar empat dalam sebuah rasa
Kurasakan udara pagi sangat sejuknya
Sampai kulupa laju kereta
Sampai kutempuh jalan bus kota

Ini tempatku lahir
Kutancapkan bunga dan beberapa tanaman
Berharap semua nafas bisa terukir
Dalam pot ruang waktu kehidupan

Berfikirlah linier
Aku yang menanam
Aku yang memanen
Lalu kubuat pagar agar tanaman hati ini tetap terjaga

Menanti siang takkan pernah sia-sia
Karena siang pasti akan datang
Tapi matahari seolah berkata" tak usah kau tunggu, namaku akan berganti disetiap seperempat waktu tiba"

Kesyukuran adalah tidak menunggu, melainkan merasa berarti memfaedahkan waktu
Kemalasan sesungguhnya tidak ada, kemalasan hanyalah semangat yang tak terjaga

Lalu sore nampak murung
Hujan tak kuasa menahan air matanya
Hatiku berontak ingin menyatu dengan keadaan
Karena hati yang lain telah menantiku berjuang

Sudah lama rasanya rindu ini berpijar
Sesaat pijar itu semakin menyala
Karena dua lilin akan lebih bercahaya

Barat menyemburat sinar cahaya mulai gelap
Ku segera merapat
Ku segera menatap syarat
Adakah modal untuk asa yang masih tersisa
Lalu kutemukan beribu ratus juta anugerah yang tertata

Wahai Tuhan 
Aku kadang terlupa
Bahkan sering terlupa
Terlupa akan sinarMu yang lembut menyejukkan, mendamaikan, serta menerangi setiap langkah jiwa raga
Aku kadang kerdil
Tak pandai namun licik bagai kancil
Terombang-ambing oleh dalil-dalil
Maka izinkanku terbang mengikuti berkah ababil

Malam tetap memancarkan cahaya
Bagi jiwa yang kokoh berlentera
Ingatlah kawan ini adalah dunia
Gapailah mimpimu, raihlah malammu

Sunyi 
Sendiri
Mengartikan arti
Mendapatkan arti 
Beri aku arti

Untuk mewujudkan cita-cita, cinta dan perjuangan hidup yang sejati

Tuhan 
SYUKURKU...TERIMAKASIHKU...

Arif suprianto @ kado ulang tahun dari dirimu.surabaya_moker 07012011
0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Sabtu, 06 November 2010

berUkhuwah dalam Maiyah

Diposkan oleh ARIF SUPRIANTO di 23:01 Label: puisi
Aku tidak dari NU 
Aku tidak dari Muhammadiyah 
Aku bukan dari HTI 
Aku bukan dari Mujahiddin

Aku bukan Sunni
 Aku bukan syi'ah 
Aku bukan majusi 
Aku bukan kebatinan

 Aku hanya ISLAM 
BerUkhuwah dengan siapa saja
BerMaiyah dengan kasih sayang

ISLAM tidak bangga denganku
Aku juga tidak membanggakan ISLAM
Karena ISLAM tetaplah ISLAM
Suci tanpa disucikan
ISLAM itu nilai
Dan aku yang berkepentingan untuk memperoleh nilai

ISLAM membuatku merasa aman
Dan aku ingin juga membuat kalian aman denganku...
Mari menata kehidupan dengan berUkhuwah dalam maiyah
0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Kamis, 09 September 2010

Tidak-Me-di- (maaf)kan.. -selamat IDUL FITRI 1431H-

Diposkan oleh ARIF SUPRIANTO di 08:08 Label: catatan
jika kita dalam keadaan aktif maka boleh memilih memaafkan atau tidak memaafkan
tapi saat pasif yang kita pilih mgkin hanyalah dimaafkan

Manusia sering membuat kesalahan dan dimaafkan adalah sebuah rizeki yang tak ternilai harganya, karena untuk mendapatkan materi dunia bisa kita dapatkan dengan mudah tapi juga mudah untuk kehilangan materi dunia tersebut. maka tidakkah kita ketahui mendapatkan kata maaf dari seseorang adalah rizeki rohani yang indah.

Memaafkan adalah suatu bentuk perjuangan rohani yang pantas kita terapkan sebagai manusia, sebagai bentuk pencarian atas diri kita sendiri untuk jalan atas memerdekakan hati dari kecemburuan dan kedengkian.

Tidak memaafkan berarti hati yang belum merdeka oleh apa yang bukan keperluaan hati, sejatinya hati adalah ruh. jika dalam hatimu adalah benda maka seringkali materi menjadikan alasan kita untuk tetap membenci orang lain.

Dalam kehidupan manusia ini terkadang yang menjadi hati adalah benda sehingga hati kita disibukkan oleh rasa memiliki suatu benda tersebut. kita sering GR akan kedudukan,materi dan jabatan dunia, hal tersebut sepatutnya kita jadikan sebagai alat pencarian ridho Tuhan atas tujuan hidup bukan melainkan tujuan hidup itu sendiri.

Karena kita manusia dan karena kita fitri.. jadikan nilai rohani idul fitri kita melampaui gemerlap kondisi jasmani kita..

SELAMAT IDUL FITRI 1431H

Arif suprianto
2 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Kamis, 19 Agustus 2010

tentang seseorang

Diposkan oleh ARIF SUPRIANTO di 06:57 Label: catatan

Terlepas dari yang utama
Tidakkah kau sadari ku selalu berusaha menghadirkan lentera
Hanya untuk temanimu saat kau berjalan ditengah malam

Bukankah aku selalu menyambutmu
Saat kau datang dan bahkan saat kau pergi
Kau itu bintang hati
Penerang dalam hidupku
Kau adalah angan
Hadir dalam setiap lamunan

Dan aku siapa
Aku ini bukan apa-apa
Aku ini ada karena kau ada dan mengakui adanya aku
Dan kau yang meng’kita’kan aku
Sebuah rumus sang pencipta yang indah

Dan cintalah yang membuatku beradu pandang
Saat ku sangat punya banyak cinta untukmu
Maka cinta itu sedikit menurunkan kadarnya
Dari rasa rindu yang berlebihan
Menjadi rasa syukur yang proporsional
Dari hasrat pengungkapan benci
Menjadi keinginan untuk menyayangi
Dari keadaan yang bisu
Menjadi untaian kata-kata yang saling memandu

Itulah cinta
Tak pernah terfikirkan olehku untuk merubahnya
Karena kita juga tak punya kekuatan apa-apa
Kecuali menguatkan cintaNya di hati kita

Memori indah telah menjadi dampak psikologis yang mewah
Dalam kesederhanaan sikap dan karsa
Kau telah berjasa
Kau telah menumbuhkan benih dewasa
Kau telah memberikan makna cinta
Kau telah mengajari sejuta cara bahagia
Meskipun begitu ternyata takdir tuhan telah mengarah pada suatu arti
Dimana ku harus berkesimpulan
Entah sampai kapan tpi “ untuk saat ini aku tak bermaksud menguasaimu cinta, karena aku sudah punya Penguasa dan Cinta yang sejati dalam kehidupanku”

Bila arti memang sudah kutemukan
Aku pasrah
Aku menyerah
Semoga ketemukan orang sepertimu dikemudian hari

Dan selalu ingatlah bahwa:
Kata-kataku bagaikan malaikat
Walau tak bisa kau sentuh dan tak bisa kau lihat
Namun kau tau ku akan selalu ada
Takkan pernah jauh
Karena kau akan butuh kata-kataku selalu...




0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Posting Lama Beranda
Langganan: Entri (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners

ARIBS

ARIBS

Tentang aribs

ARIF SUPRIANTO
Mojokerto, Indonesia
Orang yang berusaha bermanfaat bagi diri sendiri keluarga orang lain alam bangsa dan negara dunia dan semua.... BERGERAK,BERMANFAAT dan BERSYUKUR...
Lihat profil lengkapku

Labels

  • catatan (5)
  • puisi (12)
  • serba serbi (6)

Facebook aribs

Aribs Persikmania Moker
Aribs Persikmania Moker
Buat Lencana Anda

Twitter Aribs

Aribs plurk

Plurk.com

Followers

Daftar Blog Teman

  • dari OSHI untuk NEGERI
    Backpacking Tips
    2 tahun yang lalu

Dunia ku (mu)

Loading...

Pesan dari aribs

Hidup haruslah BERMANFAAT...

vertical dan horizontal!

 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com